Nostalgia Jumpa Dia

ZuperEka

Nostalgia Jumpa Dia

ZuperEka
Thursday, February 28, 2019




Motivator_@Ratu Eka Bkj 

Jika waktu ku tak begitu saja menghilang. Maka, hanya sayap putih yang datang tanpa jeda. Namun, kini benar ada jarum jam yang menghampiri. Di kala otak ku tak pernah berfikir dan mengurai akan cinta, aku tak mengerti semua bisa terjadi. Yang aku tahu hanyalah air mengalir tanpa pernah diprediksi, itulah hidup ku. Ya benar, seperti awal aku mengenal-nya.

Borok Negeri
Karya: @Ratu Eka Bkj
Di kala tahta telah merasuk
Dan, kau tusuk-tusuk....
Panahnya dengan keangkuhan
Di kala bola dunia tak lagi menjadi lampu
Kau jadikan semut semakin jelata dan merana
Kau cumbu negeri dengan nafsumu
Tak perduli rakyat yang semakin sekarat
Kini langkah hanya sekedar meraup tumpukan kekayaan yang fana
Semakin kau puaskan perutmu hingga membuncit
Dan, kau telah berhasil menjadikan bumi Pertiwi memborok
Dan, baunya semakin membusuk
Sudah puaskah?


"Prok prok  prokkkkk prook",,,, Suara tepuk tangan penonton yang tampak gemuruh itu. Kamu tahu? Ya, aku akan beri tahu. Itu menandakan betapa seorang Aktivis yang baru saja membacakan puisi kebangsaannya. Eka, benar itu nama ku.

Seorang wanita Aktivis yang sering kali membawakan tema-tema politik yang pedas. Dia sering menyuarakan orasi dan juga puisi, wujud gerakannya sebagai Aktivis.

Kala itu, aku baru saja diundang mengisi puisi di UNP Kediri dalam rangka memperingati Bulan Bahasa. Acara yang diadakan oleh Mahasiswa Bahasa Indonesia.

Aku pun turun dari panggung dengan senyum yang manis. Terlihat rasa syukur di wajahku yang makin bersinar. Banyak orang yang kagum. Baik Ketua HMJ, panitia dan penonton banyak yang mengucapkan selamat dan berjabat tangan.

Salah satunya, seorang Mahasiswa pria yang manis itu. Dia perwakilan dari salah satu Teater di kampusnya. Datang mendekati diriku.

"Haloo, Aqu Ikhwan. Pembacaan puisi yang sangat luar biasa" Katanya kepadaku sambil menjabat tangan.
"Hey, terimakasih banyak Ikhwan. Aqu Eka"
"Iya, kan udah tahu pas kamu baca puisi tadi"
"Hehehe, Iya"
"Boleh aku duduk di sini"
"Owh, boleh silahkan"
"Baca puisi kamu bagus banget. Kamu teater mana?"
"Aku bukan dari teater."
"Tapi, uda pernah ikut LATAM?"
"LATAM apaan? Nggak pernah deh kayaknya"
"Wah hebat kamu Eka, nggak pernah ikut LATAM dan nggak ikut teater. Tapi, baca puisi kamu berkualitas banget. Kok bisa kayak gitu apa resepnya?"
"Aku Aktivis Literasi. Beberapa organisasi literasi, aku ada di dalamnya. Selain itu, sejak kecil aku suka menulis dan juga suka puisi"
"Hebat. Kamu perwakilan organisasi apa ini? "
"GERMUSA"
"Apa itu, organisasi literasi?" Tanya Ikhwan penasaran.
"GERMUSA (Gerakan Komunitas Mahasiswa), organisasi pergerakan yang Aku gagas dan dirikan bersama Bolo-Bolo. Aku Pimpinan Umum GERMUSA."
"Wah mantap kamu Eka mendirikan organisasi juga. Kalau organisasi literasi kamu apa? "
"Salah satunya, QLC Trenggalek"
"Sukses selalu buat kamu Eka."
"Terimakasih Ikhwan. Oh ya, kamu dari teater mana?"
"Teater Goesti, kampus Tribakti. Eka, kagum aku kenal kamu. Bisa nggak aku minta nomer kamu. Nanti, kapan-kapan  teater kampusku ada acara pengen undang kamu"
"Iya Boleh Ikhwan, nih nomerku"

Sejak itulah. Nuansa langit yang begitu menawan. Menampakkan bintang-bintangnya yang bersinar, cemerlang. Mendengar gelegar pentas sastra yang semakin bergembira. Menyaksikan, awal perjumpaan itu. Sebenarnya, aku nggak pernah tahu kalau Ikhwan suka dan ada rasa. Aku, mengenal dan memberikan nomer telepon itu karena dalam otak ku berfikir dengan kata "Kerjasama". Tapi, jalan  Tuhan berbeda.


*Bersambung*